Sebelum terjadinya
keputusan untuk melaksanakan atau perealisasian proyek, tentunya perlu
diketahui mana proyek yang layak untuk dilaksanakan atau tidak layak untuk
dilaksanakan. Hal ini perlu diketahui, untuk menganalisa apakah proyek yang
diajukan tersebut akan memperoleh manfaat atau tidak. Analisa ini berguna bagi
pengambil keputusan atau manajer apakah akan melaksanakan proyek, menolak
proyek, memilih satu atau beberapa proyek untuk dilaksanakan, atau menentukan
skala prioritas pelaksanaan proyek. Selain itu, analisa proyek juga bermanfaat
bagi investor apakah akan menanamkan investasi dalam proyek tersebut dan
mengetahui prediksi arus kas kedepan selama masa konsesi proyek (Heni,2010).
Lebih lanjut, salah satu
alat untuk menentukan apakah proyek layak atau tidak adalah dengan menggunakan
kriteria investasi. Clive, dkk (1988), menyebutkan terdapat lima macam kriteria
investasi yaitu : (i) Net Present Value
dari arus benefit dan biaya (NPV) ; (ii) Internal
Rate of Return (IRR); (iii) Net
Benefit Cost Ratio (Net B/C); (iv) Gross-Benefit
Cost Ratio (Gross B/C); dan (v) Profitability
Ratio (PV’/K). Lebih lanjut, dalam sumber lain menggunakan kriteria atau
metode yang sedikit berbeda sebagai contoh Tungka (2009), menyebutkan metode
penilaian proyek yaitu : (i) Payback
Period; (ii) Internal Rate of Return
(IRR); (iii) Net Present Value; dan
(iv) Accounting Rate of Return.
Adapun dalam praktik
penganalisian proyek, para penganalisa menggunakan metode berbeda-beda sesuai
dengan kebutuhan lembaga atau proyek terkait. Sebagai contoh studi kelayakan
yang dilakukan Ni Luh (2012), menggunakan metode Payback Period, Net Present
Value, Profitability Index dan Internal
Rate of Return; Heni Fitriani (2010), menggunakan metode Net Present Value, Payback Period dan Internal
Rate of Return; Budiasa (2002) menggunakan metode Net Present Value dan Internal
Rate of Return. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing proyek membutuhkan
pendekatan dengan metode yang berbeda-beda atau faktor lain.
Namun, yang perlu
diketahui adalah masing-masing metode atau kriteria tersebut memiliki
keunggulan dan kelemahannnya masing-masing. Tungka (2010), secara jelas
menyebutkan keunggulan dan kelemahan dari metode penilaian investasi, yaitu
sebagai berikut :
1 . Metode Payback Period
Keunggulan
:
-
Proses yang mudah dan sederhana;
-
Layak untuk mengevaluasi proyek investasi
yang besar;
-
Penilaian yang lebih baik daripada dengan
pertimbangan intuitif semata;
-
Diharapkan dapat segera menutup modal yang
ditanam pada proyek.
Kelemahan
:
-
Tidak memperhatikan nilai waktu uang;
-
Mengabaikan laba tunai setelah jangka
waktu payback terlewati;
-
Mengabaikan nilai sisa dari investasi.
2 . Metode Internal Rate of Return (IRR)
Keunggulan
:
-
Mempertimbangkan nilai waktu uang;
-
Mempertimbangkan seluruh laba tunai selama
umur proyek;
-
Presentase tingkat bunga atau diskonto
yang digunakan dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan prioritas
proyek.
Kelemahan
:
-
Proses perhitungan yang lebih sulit dari
metode lainnya;
-
Proses perhitungan yang lama.
3 . Metode Net Present Value (NPV)
Keunggulan
:
-
Mempertimbangkan nilai waktu uang;
-
Mempertimbangkan seluruh laba tunai selama
umur proyek;
Kelemahan
:
-
Proses yang lebih sulit daripada Payback Period;
-
Terdapat kesulitan dalam penentuan tingkat
bunga yang layak sebagai dasar diskonto;
-
Apabila terdapat beberapa pilihan proyek
investasi yang besarnya berbeda-beda, maka perbedaan proceeds dari
proyek-proyek investasi tersebut yang dihitung dengan metode NPV tidak dapat
digunakan sebagai pedoman.
-
Dapat memberikan hasil yang menyesatkan
dalam penentuan prioritas investasi jikahalnya proyek memiliki umur ekonomis yang
berbeda-beda.
4 . Metode Accounting Rate of Return
(ARR)
Keunggulan
:
-
Proses perhitungan yang mudah;
-
Mempertimbangkan seluruh laba tunai selama
umur proyek;
Kelemahan
:
-
Tidak mempertimbangkan nilai waktu uang;
-
Sulit di dalam menentukan besarnya
persentase rate of return yang dianggap layak yang akan dijadikan sebagai batas
minimum penerimaan suatu proyek investasi.
Adapun De Neufille, dalam
Feri Prasetya (2012), juga menyebutkan perbandingan mengenai keunggulan dan
kelemahan antar metode yaitu metode NPV/NPV, IRR dan Net B/C atau BCR yang
dapat dilihat pada tabel berikut :
Dilihat dari tabel
diatas, dari sisi cerminan skala proyek diketahui bahwa metode BCR atau Net B/C
memenuhi kriteria dalam mencerminkan skala proyek. Adapun dalam kemudahan
pengurutan proyek metode IRR dan Net B/C memiliki keunggulan. Lebih lanjut,
dari sisi kemudahan penggunaannya metode NPB atau NPV dan BCR atau Net B/C
terbilang mudah digunakan.
Berdasarkan perbandingan
yang dilakukan De Neufille diatas, kita dapat mengetahui metode yang mana,
digunakan untuk kebutuhan apa. Sebagai contoh, metode BCR dapat menjadi acuan
dalam pengurutan proyek dalam prioritas, metode NPV dapat menjadi acuan untuk
mengetahui nilai uang selama masa proyek, metode IRR dapat digunakan untuk
mengetahui tingkat pengembalian dari proyek.
Dilihat dari keunggulan
dan kelemahan diatas tentu seorang evaluator perlu bijak dalam menentukan
metode apa yang digunakan. Masing-masing kriteria atau metode diatas, saling
melengkapi satu sama lain, sehingga proses pengambilan keputusan yang dilakukan
makin mendekati manfaat yang diharapkan. Namun, dilema dari penggunaan metode
kriteria investasi ini dibanding dengan intuisi manajemen semata seakan
membutuhkan waktu lebih lama karena melewati masa trial and error dalam metode tertentu, sebagai contoh dalam metode
IRR. Lebih lanjut, ketidakhadiran metode lain yang sejenis yang mengusung sistem
lain, dengan sistem bagi hasil misalnya membuat analisa keuangan proyek juga
sulit dilakukan pada sistem terkait. Sehingga, ini merupakan tantangan bagi
para peneliti, pengevaluasi ataupun akademisi untuk mengembangkan metode
ataupun hasil analisi yang efesien dan efektif guna mencapai manfaat yang
diharapkan dari proyek terkait.
Sumber Bacaan :
Budiasa,
I Wayan. 2002. Studi Kelayakan Proyek
Perkebunan Kelapa Sawit PT. Henrison Inti Persada, Papua. E-Jurnal
Universitas Udayana No.2 Vol.2 Juli 2002.
Fitriani,
Heni. 2010. Analisa Kelayakan Finansial
Pasar Tradisional Modern Plaju Palembang. Jurnal Rekayasa Sriwijaya No.1 Vol.19.
N,
Tungka. 2009. Metode Analisa Proyek.
Universitas Atma Jaya Jogjakarta.
Prasetya,
Ferry. 2012. Modul Ekonomi Publik:
Analisis Biaya dan Manfaat. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Brawijaya.
Putu,
Ni Luh. 2012. Studi Kelayakan Investasi
dari Aspek Finansial Untuk Pendirian Naya Salon Denpasar. E-Jurnal
Universitas Udayana No.1 Vol.2.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar